Senin, 22 Desember 2014

Letter from your second son

Terlahir dari keluarga jaman dulu. Terdidik dengan didikan rada jaman dulu. Ga membuat rasa sayang gue ke ayah dan ibu berkurang. Jujur, makin kesini gue pun makin berontak dengan sistem didikan jaman dulu, yang terjadi akhirnya gue memilih menjalani kehidupan gue dengan cara gue.
Baik ayah maupun ibu setuju, mereka berdua cuma berpesan agar jangan lupa sholat, sayangi kami berdua, dan jujur.
Gue berpikir, masa transisi gue dimulai, sekarang.
Ayah maupun ibu bukan tipe yang terbuka sama anak-anaknya, jarang bahkan hampir tidak pernah terdengar kalimat "gimana sekolahnya hari ini?" "lagi ada masalah apa?" atau hal-hal yang kebanyakan orang tua demokratis lainnya tanyakan.
Tapi saya yakin seyakin yakinnya, mereka sayang dan cinta sama gue, with their own way, pray and silence.
baik ibu maupun ayah mengajarkan gue tentang kerja keras.
Hidup ga perlu banyak bicara, kata mereka.
Dan sekarang, mulai gue terapkan. speak less work more. and play most of course.
.
.
.
.
.
Sekarang ayah lagi sakit. Terbaring lemah di ICCU RS.Fatmawati.
Jantung dan penumpukan cairan di paru-paru.
Ibu pun sekarang menemani, sudah hampir 2 minggu di sana. Setia menunggu, selalu siap kalau ayah ingin ini itu. Lelah dan capek engga jadi masalah katanya. Mengabdi sama suami.
.
.
.
.
.
Lagi-lagi gue diajarkan, walaupun mereka engga secara langsung mengajarkan.
Cinta.
Cinta itu indah.
Cinta yang suci itu abadi.
Hanya maut yang memisahkan, itupun hanya jasad.
Hati dan jiwa beda urusan.
.
.
.
.
.
Someday you'll find the one.
The one who makes you happy.
The one who makes you more closer to God.
The one who will face the cruelty of life together.
The one who will raised your childrens together.
The one who makes you proud.
The one who makes us proud.
Someday, just be patient.
.
.
.
.
.
Mom said to me.
.
.
.
.
.
Be strong mom, I love you. Happy mom's day.
Dad, get well soon ma old man! Be strong!

Sincerely
Your Son


PS : I need some tissue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar