Perang, pembantaian,
baku tembak, seakan sudah menjadi “santapan” sehari-hari para malaikat kecil di
negeri yang terkenal akan raja-raja yang kaya beserta kumpulan minyak yang
berlimpah. Pertumpahan darah menjadi tontonan
yang tidak lagi tak lazim buat mereka. Melihat sanak saudaranya dibunuh,
diperkosa, digorok… Seakan itu sudah menjadi takdir bagi mereka.
Pembukaan di atas
merupakan sedikit penggalan dari gambaran nasib anak-anak yang hidup di desa
kecil di Suriah, yaitu desa Houlan. Pertama gue membaca beritanya di sebuah
situs internet, terus terang yang pertama muncul di benak gue adalah “What the Hell are they thinking?!”, anak
kecil yang sama sekali tidak mengerti persoalan para pemimpinnya tersebut ikut
dibantai?! Damn! Mereka Negara dengan mayoritas beragama Islam, tapi
kenyataannya? Tidak ada sama sekali nilai islam yang mereka contohkan, Semua
habis dimakan oleh nafsu untuk “diakui” oleh penguasa yang lain.
Ini yang terjadi pada
tanggal 25 Mei 2012, sebuah pembantaian besar-besaran yang sama sekali tidak
mengenal kata gender, semua dibunuh termasuk anak-anak. Lebih dari 30 anak-anak
tewas secara mengenaskan ditempat. Digolok, Ditembak, Dicungkil matanya, dan
semua aktivitas yang yaaa kurang lebih sama persis dilakukan oleh Mike Myers nya
Halloween, Chucky nya Child’s play, atau para pemuja setan
lainnya. They do that with no mercy.
Dan berikut adalah artikel
mengenai kesaksian seorang anak korban selamat dari pembantaian tsb :VIVAnews - Kengerian pembantaian warga kota Houla di Suriah masih terus
terngiang. Dalam beberapa wawancara saksi mata terungkap, tentara bayaran rezim
Bashar al-Assad atau Shabiha tidak kenal ampun, membantai wanita dan anak-anak.
Stasiun berita CNN, Selasa 28 Mei 2012, menyajikan laporan beberapa saksi mata yang terekam liputan wartawan lokal, media asing tidak diperbolehkan masuk Suriah, hanya mengandalkan rekaman yang berhasil lolos keluar. Sebanyak 108 orang tewas, lebih dari 30 anak-anak, dibantai seperti binatang di dalam rumah mereka sendiri.
Mayat para bocah malang itu sangat mengenaskan. Beberapa perutnya terburai, beberapa lainnya luka parah di kepala dan dada. Dalam sebuah rekaman terlihat mayat anak-anak di lantai bersimbah darah, mata mereka membelalak, dan pakaian mereka sobek sobek.
Saksi mata mengatakan bahwa bocah itu tutup usia bukan hanya karena ditembak, tapi juga ditusuk belati atau dikapak hingga mati. Seorang lelaki dalam rekaman yang diposting online memperlihatkan mayat anak-anak yang ditutupi selimut. Membuka salah satunya dia berkata, "Mereka hanyalah anak-anak, apa salah mereka Bashar? Apa salah mereka Arab?" ujarnya lirih.
Menurut laporan Human Right Watch (HRW) pembantaian terjadi Jumat pekan lalu pukul 2 siang, usai solat Jumat. Sebagian besar warga kota Houla adalah warga Sunni yang tinggal dikelilingi oleh desa-desa Syiah dan Alawi, sekte yang dianut Bashar al-Assad. Tentara Shabiha awalnya baku tembak dengan Tentara Pembebasan Suriah, namun meluas hingga membunuhi warga.
Shabiha menggunakan tank dan mortir menggempur pemukiman di Houla. "Sekitar pukul tujuh malam, penggempuran semakin keras dan seluruh gedung bergetar. Tentara menembakkan roket yang mengguncang wilayah itu," tulis laporan HRW.
Seorang bocah 10 tahun mengisahkan horornya. "Di ujung jalan saya melihat teman saya Shafiq, 13 tahun, berdiri sendirian. Seorang berpakaian militer menariknya dan menaruhnya di pojok rumah. Lalu Shafiq ditembak di kepalanya. Ibunya dan kakak perempuannya, sekitar 14 tahun, keluar dan teriak. Tentara yang sama kemudian menembaki mereka berdua," ujarnya.
"Saya melihat Shafiq tergeletak mati. Tiga wanita lainnya, dua di antaranya membawa anak, juga ditembak. Beberapa ditembak di kepala, lainnya ditembak beberapa kali di tubuh. Seorang anak usia 14 tahun berhasil selamat, dia tertembak dua kali di kakinya. Sepupu saya mati ditembak di dada," lanjutnya lagi.
Stasiun berita CNN, Selasa 28 Mei 2012, menyajikan laporan beberapa saksi mata yang terekam liputan wartawan lokal, media asing tidak diperbolehkan masuk Suriah, hanya mengandalkan rekaman yang berhasil lolos keluar. Sebanyak 108 orang tewas, lebih dari 30 anak-anak, dibantai seperti binatang di dalam rumah mereka sendiri.
Mayat para bocah malang itu sangat mengenaskan. Beberapa perutnya terburai, beberapa lainnya luka parah di kepala dan dada. Dalam sebuah rekaman terlihat mayat anak-anak di lantai bersimbah darah, mata mereka membelalak, dan pakaian mereka sobek sobek.
Saksi mata mengatakan bahwa bocah itu tutup usia bukan hanya karena ditembak, tapi juga ditusuk belati atau dikapak hingga mati. Seorang lelaki dalam rekaman yang diposting online memperlihatkan mayat anak-anak yang ditutupi selimut. Membuka salah satunya dia berkata, "Mereka hanyalah anak-anak, apa salah mereka Bashar? Apa salah mereka Arab?" ujarnya lirih.
Menurut laporan Human Right Watch (HRW) pembantaian terjadi Jumat pekan lalu pukul 2 siang, usai solat Jumat. Sebagian besar warga kota Houla adalah warga Sunni yang tinggal dikelilingi oleh desa-desa Syiah dan Alawi, sekte yang dianut Bashar al-Assad. Tentara Shabiha awalnya baku tembak dengan Tentara Pembebasan Suriah, namun meluas hingga membunuhi warga.
Shabiha menggunakan tank dan mortir menggempur pemukiman di Houla. "Sekitar pukul tujuh malam, penggempuran semakin keras dan seluruh gedung bergetar. Tentara menembakkan roket yang mengguncang wilayah itu," tulis laporan HRW.
Seorang bocah 10 tahun mengisahkan horornya. "Di ujung jalan saya melihat teman saya Shafiq, 13 tahun, berdiri sendirian. Seorang berpakaian militer menariknya dan menaruhnya di pojok rumah. Lalu Shafiq ditembak di kepalanya. Ibunya dan kakak perempuannya, sekitar 14 tahun, keluar dan teriak. Tentara yang sama kemudian menembaki mereka berdua," ujarnya.
"Saya melihat Shafiq tergeletak mati. Tiga wanita lainnya, dua di antaranya membawa anak, juga ditembak. Beberapa ditembak di kepala, lainnya ditembak beberapa kali di tubuh. Seorang anak usia 14 tahun berhasil selamat, dia tertembak dua kali di kakinya. Sepupu saya mati ditembak di dada," lanjutnya lagi.
Kejadian ini pastinya
pun banyak menuai protes dari berbagai kalangan. Inggris, Jerman, dan hampir
seluruh Negara di dunia mengutuk
perbuatan keji ini. Menurut mereka ini adalah kejadian yang sangat menjijikan
dan sangat terkutuk. Bahkan Sekutu yang dulu pernah memveto Resolusi Dewan Keamanan PBB ttg perdamaian Suriah,
yaitu Rusia dan China, melayangkan protes keras terhadap Suriah.
Tapi yang dibutuhkan disini adalah bukan
sekedar layangan protes, tetapi sebuah tindak nyata dari PBB untuk segera
menyelesaikan semua masalah yang terjadi di seluruh daerah konflik di Timur
Tengah. It isn’t just a problem man, it’s an urgent Situation! Kita pasti gamau
lihat lagi kan yang namanya anak kecil yang notabene “ga tau apa-apa” dipotong
lehernya without reason? Gue pribadi miris sob ngeliatnya, something’s wrong
with justice in this world, Negara kuat pun bahkan kayak gabisa apa-apa buat
ngelawan tentara suriah ini. Sebuah ironi memang, dan sekali lagi gue turut berduka cita atas kematian 32 anak di
Suriah dan semoga mereka diterima di sisiNya. Satu kalimat terakhir dari gue “Justice
is not created by a strong people, but
it created from a strong heart”
A.F
Tidak ada komentar:
Posting Komentar