Kita umat Islam pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Buya Hamka dan K.H. Abdullah Syafi'ie, atau yang biasa dipanggil cang dulo, ini adalah 2 contoh manusia yang memang sudah sepatutnya dijadikan panutan dalam bertoleransi dalam beragama (Islam), yang notabene sekarang di Indonesia banyak sekali aliran-aliran dalam agama islam yang beredar di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan
perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal. Dan siapa tidak kenal KH
Abdullah Syafi'ie, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafiiyah, yang umumnya
kiyai betawi pada hari ini adalah murid-murid beliau.
Meski Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah,
namun ia berkawan baik dengan tokoh NU seperti KH. Abdullah Syafi'ie, ulama
kawakan yang juga dijuluki 'Macan Betawi' kharismatik.
Nah, disini saya akan menceritakan sedikit tentang toleransi yang kedua sahabat ini lakukan.
Di antaranya kisah sederhana Buya Hamka dan
KH.Abdullah Syafi'ie ialah toleransi dan lebih mengedepankan ukuwah Islamiyah.
Kisah ini, sebagaimana yang diceritakan oleh putera beliau, Rusydi Hamka,
adalah tentang persoalan khilafiyah seperti qunut, jumlah rakaat tarawih,
maupun jumlah adzan shalat jum'at. Meski Buya Hamka boleh dibilang tokoh
Muhammadiyah yang tidak mempraktekkan qunut pada shalat subuh, namun beliau menghormati
sahabatnya, KH. Abdullah Syafi'ie, ulama yang menyatakan bahwa qunut shalat
shubuh itu hukumnya sunnah muakkadah. Buya Hamka jika hendak mengimami jamaah
shalat subuh, suka bertanya kepada jamaah, apakah akan menggunakan qunut atau
tidak. Dan ketika jamaah minta qunut, tokoh dan penasihat Muhammadiyah inipun
mengimami shalat subuh dengan qunut.
Dalam kesempatan lain tentang masalah adzan
dua kali. Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi'ie mengunjungi Buya di
masjid Al-Azhar, Kebayoran Jakarta Selatan. Hari itu menurut jadwal seharusnya
giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena sahabatnya datang, maka Buya minta
agar KH. Abdullah Syafi'ie saja yang naik menjadi khatib Jumat.
Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat
dikumandangkan dua kali, padahal biasanya di masjid itu hanya satu kali adzan.
Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada
shalat Jumat itu adalah pendapat sahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang
diserahkan, bahkan adzan pun ditambahkan jadi dua kali, semata-mata karena
ulama ini menghormati ulama lainnya.
Begitu pula tentang jumlah rakaat tarawih.
Buya Hamka ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau
23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar pada saat itu memilih
23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya,
jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat.
Dari cerita di atas, timbul pertanyaan dari diri saya. "Kenapa kita harus mempermasalahkan perbedaan? Padahal Islam pun tidak mempermasalahkan ttg perbedaan tsb, selama perbedaan tsb masih mengakui Allah itu esa, dan Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah kan? Bukannya perbedaan di Islam itu sebuah rahmat?
Berarti sebaliknya,
mereka yang suka meributkan masalah khilafiyah, biasanya merupakan sosok yang
kerjanya memang sekedar cari-cari perbedaan, dan umumnya mereka memang suka
sensasi. Apa yang keluar dari mulutnya hanya foto copy dan taqlid dari orang
lain, bukan lahir dari keluasan ilmu, kefaqihan dan kealiman, apalagi dari
kerendahan hatinya. Tapi sayangnya, sikap dan perilaku mereka, seolah mufti tertinggi.
Inilah tipologi ulama sejati yang ilmunya mendalam dan
wawasannya luas. Kisah ini sungguh luar biasa dan perlu kita hidupkan lagi.
Mereka tidak pernah meributkan urusan khilafiyah, sebab pada hakikatnya urusan
khilafiyah lahir karena memang proses yang alami, di mana dalil dan nash yang
ada menggiring kita ke arah sana. Bukan sekedar asal beda dan cari-cari
perhatian orang. Karena itu harus disikapi dengan luas dan luwes.
-A.F-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar